MOTIVASI DAN PROGRAM KESEJAHTERAAN SDM PENDIDIKAN
Makalah
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Manajemen SDM
Dosen
Pengampu : Drs. Abdul Wahid,M.Ag

Disusun
Oleh Kelompok 8:
Luluk Fitriana (1403036027)
Iaffan Iza
Mustafa
(1403036033 )
Lu’lu’ul Fuadatunnisa (1403036105)
R.A. Elok Husna Irfaniya (1403036085)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I. PENDAHULUAN
Motivasi
telah menjadi tugas manajemen, menimbulkan permasalahan yang paling sulit dan
penting untuk dipecahkan. Manajemen telah menggunakan banyak metode untuk
memperbaiki motivasi. Motivasi akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja,
dan penurunan tingkat perputaran dan absensi kerja. Berbagai permasalah
motivasi yang dihadapi oleh banyak perusahaan hanya untuk memecahkan
permasalahan dalam jangka pendek saja.
Menurunnya
semangat kerja merupakan ciri dari kurangnya motivasi yang dirasakan oleh
kebanyakan pekerja. Manajer yang baik hanya memilih teori motivasi yang sesuai
dengan motivasi yang sesuai dengan situasi yang dialami perusahaannya. Dalam
makalah ini akan membahas terkait tentang
moyivasi yang baik.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Motivasi?
B. Bagaimana Konsep Dasar Motivasi?
C. Apa Saja Pendekatan-pendekatan Dalam
Motivasi?
D. Apa Saja Teori-Teori Dalam Motivasi?
E. Apa Pengertian Kesejahteraa?
F. Apa tujuan an Manfaat Program
Kesejahteraan?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi
Istilah
Motivasi (motivation) berasal dari bahasa latin, yakni movere yang berarti “ menggerakkan” (to move).
Motivasi merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau
eksternalbagi seorang individu. Yang meyebabkan timbulnya sikap entusiasme dan
persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan kegiatan tertentu (Gray, Dkk, 1984
: 69). Kami berpendapat bahwa motivasi adalah satu kekuatan potensial yang ada
di dalam diri `seorang manusia, yang dapat di kembangkannya sendiri atau di
kembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar
imbalan moneter dan imbalan non moneter, yang dapat mempengaruhi hasil
kinerjanya secara positif atau secara negative, hal mana tergantung pada
situasi dan kondisi yang di hadapi orang yang bersangkutan.[1]
Motivasi
di definisikan oleh Fillmore H. Standford Motivasi sebagai suatu kondisi
yang menggerakkan manusia kea rah suatu tujuan tertentu. Ernest J.McCormick
mendifiniskan motivasi kerja sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan,
mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.[2]
Motivasi
merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku
manusia. Motivasi ini merupakan subjek yang penting bagi manajer, karena
menurut definisi manajer harus bekerja dengan dan melalui orang lain.[3]
B. Konsep
Dasar Motivasi
Konsep
dasar motivasi dipakai untuk menggambarkan hubungan antara harapan dengan
tujuan, kebutuhan, rangsangan.
1.
Tujuan
: Suatu konsep biasanya ditampilkan oleh berbagai tanggapan yang di tentukan
lebih lanjut oleh banyak factor. Keanggotaan seseorang pada organisasi berpengaruh
terhadap tujuan dan tingkah lakunya dalam mencapai tujuan itu. Apabila
organisasi ingin berhasil mendorong para anggotanya dalam mewujudkan tujuan
organisasi maupun tujuan anggotanya terlebih dahulu haruslah memenuhi semua
kebutuhan yang mendukung jalannya organisasi. Dengan demikian konsep motivasi
erat sekali hubungannya dengan pencapaian.
2.
Kebutuhan
: Konsep yang bertalian dengan motivasi isebut dengan istilah kebutuhan.
Kebutuhan merupakan suatu motivasi yang subjektif yang terdapat dalam diri
seseorang yang bersifat internal.
3.
Rangsangan
: konsep ini erat sekali hubungannya dengan kebutuhan, bisa dikatakan 2 sisi
dalam satu mata uang. Konsep rangsangan dapat disebut dengan istilah insentif
yang merupakan situasi motivasi yang objektif yaitu dapat berupa suatu barang
yang berada di luar diri seseorang yang bersifat eksternal.[4]
C.
Pendekatan- Pendekatan Motivasi
Dalam perkembangannya,
motivasi dapat dipandang menjadi empat pendekatan antara lain, pendekatan
tradisional, hubungan manusia, sumber daya manusia, dan pendekatan konteporer.
1.
Pendekatan tradisional
Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Frederick W Taylor
dari manajemen ilmiah. Dalam model ini yang menjadi titik beratnya adalah
pengawasan dan pengarahan. Pada pendekatan ini manajer menentukan cara yang
paling efisien untuk pekerjaan berulang dan memotivasi karyawan dengan sistem
insentif upah, semakin banyak yang dihasilkan maka semakin banyak upah yang
diterima.
2.
Pendekatan Hubungan Manusia
Elton Mayo Menemukan bahwa kebosanan dan pengulangan berbagai tugas
merupakan faktor yang dapat menurunkan motivasi, sedangkan kontak sosial
membantu dalam menciptakan dan mempertahankan motivasi. Jadi manajer dapat
memotivasi karyawan dengan memberikan kebutuhan sosial serta dengan membuat
mereka merasa berguna dan lebih penting.
3.
Pendekatan Sumber Daya Manusia
Pendekatan ini menyatakan bahwa para karyawan dimotivasi oleh
banyak faktor, tidak hanya uang atau keinginan untuk mencapai kepuasan , tetapi
kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti.
4.
Pendekatan Kontemporer
Pendekatan ini didominasi oleh tiga tipe motivasi, yaitu motivasi
isi, teori proses, dan teori penguatan. Teori isi menekankan pada teori
kebutuhan-kebutuhan manusia, manajer harus dapat memahami kebutuhan anggotanya
untuk meningkatkan tanggung Jawab dan kesetiaannya atas pekerjaan dan organisasi. Dalam teori isi terdapat tiga
teori motivasi yang menekankan pada analisis yang mendasari kebutuhan-kebutuhan
manusia .antara lain, teori hierarki kebutuhan, teori ERG, dan teori dua
faktor. Pada teori proses terdapat dua teori motivasi yang berpusat pada
bagaimana para angota mencari penghargaan dalam keadaan bekerja.[5]
D. Teori-Teori Motivasi
1.
Teori
kebutuhan
Teori motivasi
Maslow, menyatakan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarki.
Tingkat yang paling rendah adalah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang paling
tinggi adalah kebutuhan perwujudan/aktualisasi diri. Dalam Hipotesisnya
menyatakan bahwa setiap manusia ada lima hirarkhi kebutuhan yaitu
a.
. Kebutuhan fisiologis,
Kebutuhan-kebutuhan
inilah yang perlu dipenuhi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Diantaranya yaitu:
Oksigen, pangan, minuman, eliminasi, istirahat, aktivitas, dan pengaturan suhu.
Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis ini memiliki sejumlah karakteristik:
1) memiliki
relatif independen satu sama lainnya.
2) Dalam banyak
kasus mereka dapat diidentifikasi dengan sebuah lokasi khusus di dalam tubuh
(misalnya perasaan lapar, haus, yang
dapat dikaitkan dengan perut).
b.
Kebutuhan rasa aman, yaitu
kebutuhan yang meliputi: kebutuhan akan keamanan, dan proteksi dari gangguan
fisik dan emosi. Hampir semuanya karyawan tergantung pada organsasinya sehubung
dengan ketentraman, supervisi, kepuusan-keputusan yang berkaitan dengan
pekerjaannya.
c.
Kebutuhan sosial, yaitu
kebutuhan yang meliputi: kasih sayang, rasa memiliki, dan dimiliki, penerimaan
dan persahabatan.
d.
Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan yang meliputi: harga diri
internal seperti menghormati diri sendiri, otonomi, dan usaha untuk mencapai
hasil.
e.
kebutuhan akan penghargaan yaitu kebutuhan akan penghargaan diri
mencakup kebutuhan untuk mencapai kepercayaan dir, prestasi, kompetensi,
pengetahuan, penghargaan diri, dan kebebasan serta independensi ( ketidak
ketergantungan).
f.
Kebutuhan merealisasi diri, Yaitu Kebutuhan ini berupa kebutuhan-kebutuhan
individu untuk merealisasi potensi yang ada pada dirinya untuk mencapai
pengembangan diri secara berkelanjutan.[6]
2.
Teori Dua Faktor
Teori dua faktor
pertaa kali dikemukakan oleh Frederick Herzberg. Teori ini dikemukakan pada
umunya bahwa para karyawan baru cenderung untuk memusatkan perhatiannya pada
pemuasan kebutuhan lebih rendah dalam pekerjaan pertama mereka, terutama
keamanan. Kemudian setelah hal itu dapat terpuaskan, mereka akan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan pada tingkatan yang lebih tinggi, seperti kebutuhan
inisiatif, kreatifitas, dan tanggungjawab.
3.
Teori X dan Y
Teori X dan Y pertama sekali dikemukakan oleh Douglas McGregor. Dalam
teori akan dikemukakan dua pandangan berbeda mengenai manusia, pada dasarnya
yang satu adalah negatif yang ditandai dengan toei X, dan yang laiinnya adalah
bersifat positif yang ditandai dengan teori Y. McGregor menyimpulkan bahwa
pandangan seorang manajer mengenai sifat manusia didasarkan pada suatu
pengelompokan dengan asumsi-asumsi tertentu. Berdasarkan asumsi-asumsi
tersebut, manajer menetapkan perilakunya terhadap bawahannya.
Implikasi manajerial dari teori X dan Y dapat diuraikan secara
sederhana dalam proses manajemen adalah sebagai berikut:
a.
Tetapkan tujuan dan susun rencana untuk mencapainya
b.
Laksanakan rencana melalui kepemimpinan
c.
Kendalikan dan buatlah penilaian atas hasil yang dicapai dengan
membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
4.
Teori ERG
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Clayton Alderfer yang
melanjutkan teori herarki kebutuhan. Alderfer melanjutkan teori herarki
kebutuhan yang dihubungkan secara lebih dekat dengan hasil penelitian empiris,
sehingga hasilnya mendekti pada kenyataan. Alderfer membagi 3 kelompok
kebutuhan manusia antara lain: eksistensi, hubungan , dan pertumbuhan.
5.
Teori keadilan
Teori ini mengemukakan bahwa orang selalu membandingkan antara
masukan-masukan yang mereka berikan pada ekerjaannya dengan hasil yang
diperoleh dari pekerjaan tersebut.masukanmasukan atau sumangan-sumbangan
tersebut baik dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan, dan usaha,
sedangkan hasil-hasil yang diterima dalam bentuk penghargaan.
6.
Teori pengharapan
Teori pengharapan pertama kali dikemukakan oleh Victor Vroom yang
mengatakan bahwa motivasi seseorang mengarah pada suatu tindakan yang
bergantung pada kekuatan pengharapan. Tindakan tersebut akan diikuti oleh hasil
tertentu dan bergantung pada hasil seseorang tersebut.
7.
Teori penguatan
Teori penguatan pertama kali dikemukakan oleh seorang hli psikologi
B.F. Skinner, yang mengatakan bahwa bagaimana tingkah laku di masa lampau
mempengaruhi tindakan di masa yang akan datang dalam proses belajar sikli.
Teori penguatan berargumen pada tingkah laku individu(respon) terhadap situasi
tertentu(rangsangan) meupakan penyebab dari konsekuensi tertentu. Teroi penguat
ini berkaitan dengan pemberian hadiah. Berarti bahwa penguatan adalah
pengulagan kegiatan karena mendapatkan hadiah.
8.
Teori motivasi McClelland
Memberikan kontribusi bagi pemahaman motivasi dengan
mengidentifikasi 3 macam kebutuhan yaitu kebutuhan akan prestasi, berkuasa, dan
berafiliasi.
b.
Motivasi Berprestasi
Seseorang yang mempunai motivasi berprestasi akan menyukai pekerjaan
yang menantang. Mereka tidak percaya kepada nasib baik dalam mencapai sesuatu,
karena segaa sesuatu dapat dicapai melalui kerja keras.
c.
Motivasi Berkuasa
Sesorang akan termotivasi bila pekerjaannnya dapat memberikan kuasa
atau mempengaruhi oang lain. Mereka suka berada dalam posisi ke dalam
memberikan saran dan pendapat, serta menjadikn orang lain sebagai alat dalam
mencapai tujuan organisasi.
d.
Motivasi Berafiliasi
Motivasi ini tercermin pada keinginan seseorang untuk menciptakan,
memelihara, dan menghubungkan suasana kebatianan dan perasaan yang saling
menyenangkan antar sesama manusia dalam organisasi. Tujuan utama dari orang
dengan motivasi berafiliasi adalah memperoleh persahabatan dengan rekannya
dalam organisasi, lebih menyukai situasi kooperatif daripada persaingan.
9.
Teori Porter-Lawler
Teori
ini memperlihatkan bahwa upaya bergantung pada nilai penghargaan yang mereka
terima dengan penghargaan yang dirasakan. Sebagaimana diketahui bahwa hal-hal
yang dipandang orang sebagai penghargaan yang layak diterima akan mempengaruhi
kepuasan kerja.[7]
E. Kesejahteraan Karyawan
Menurut Malayu S.P. Hasibuan
kesejahteraan adalah balas jasa lengkap (materi dan non materi yang diberikan
oleh pihak perusahaan berdasarkan kebijaksanaan. Tujuannya untuk mempertahankan
dan memperbaiki kondisi fisik dan mental karyawan agar produktifitasnya
meningkat.
Kesejahteraan dapat dipandang sebagai uang bantuan lebih
lanjut kepada karyawan. Terutama pembayarannya kepada mereka yang sakit, uang
bantuan untuk tabungan karyawan, pembagian berupa saham, asuransi, perawatan di
rumah sakit, dan pensiun.
Pentingnya program kesejahteraan
yang diberikan kepada karyawan dalam rangka meningkatkan disiplin kerja
karyawan yang dikemukakan oleh Hasibuan adalah:
“Pemberian kesejahteraan akan menciptakan ketenangan, semangat kerja, dedikasi, disiplin dan sikap loyal terhadap perusahaan sehingga labour turnoverrelative rendah.”Dengan tingkat kesejahteraan yang cukup, maka mereka akan lebih tenang dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dengan ketenangan tersebut diharapkan para karyawan akan lebih berdisiplin.
“Pemberian kesejahteraan akan menciptakan ketenangan, semangat kerja, dedikasi, disiplin dan sikap loyal terhadap perusahaan sehingga labour turnoverrelative rendah.”Dengan tingkat kesejahteraan yang cukup, maka mereka akan lebih tenang dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dengan ketenangan tersebut diharapkan para karyawan akan lebih berdisiplin.
Menurut I.G. Wursanto menyatakan
bahwa : Kesejahteraan sosial atau jaminan sosial bentuk pemberian penghasil
baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk non materi, yang diberikan oleh
perusahaan kepada karyawan untuk selama masa pengabdiannya ataupun setelah
berhenti karena pensiun, lanjut usia dalam usaha memenuhi kebutuhan materi
maupun non materi kepada karyawan dengan tujuan untuk memberikan semangat atau
dorongan kerja kepada karyawan.
Menurut Andre. F. Sikulu
menyatakan bahwa : Kesejahteraan karyawan adalah balas jasa yang diterima oleh
pekerja dalam bentuk selain upah atau gaji langsung. Dalam UU 13/2003
memberikan pengertian tentang kesejahteraan pekerja, yaitu suatu pemenuhan
kebutuhan dan atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di
dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung
dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan
sehat.
F. Tujuan dan manfaat Program Kesejahteraan
Karyawan
Program kesejahteraan yang
diberikan oleh perusahaan, lembaga atau organisasi pada pegawainya hendaknya
bermanfaat, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan perusahaan yang
efektif. Program kesejahteraan karyawan sebaiknya sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh perusahaan dan tidak melanggar peraturan pemerintah.
Adapun tujuan program
kesejahteraan pada pegawai menurut Malayu S.P. Hasibuan adalah :
1. Untuk meningkatkan kesetiaan
dan ketertarikan pegawai dengan perusahaan.
2. Memberikan ketenangan dan
pemenuhan kebutuhan bagi pegawai beserta keluarganya.
3. Memotivasi gairah kerja,
disiplin dan produktifitas pegawai.
4. Menurunkan tingkat absensi.
Dan labour turn over.
5. Menciptakan lingkungan dan
suasana kerja yang baik serta nyaman.
6. Membantu lancarnya pelaksanaan
pekerjaan untuk mencapai tujuan.
Dale yolder menjelaskan bahwa
“Benefits may be regardedas the more tangible financial contributions to
employees. Special payment to those who are ill, contributions to employees
savings, distributions of stock , insurance, hospitalization, and private
pensions for example
(kesejahteraan dapat dipandang
sebagai uang bantuan lebih lanjut kepada karyawan. Terutama pembayaran kepada
mereka yang sakit, uang bantuan untuk tabungan karyawan, pembagian berupa
saham, asuransi, perawatan dirumah sakit, dan pensiun.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa yang termasuk kedalam kesejahteraan karyawan dapat dapat
berupa uang bantuan seperti bantuan untuk perawatan untuk karyawan yang sakit
serta perawatannya, bantuan uang untuk tabungan, pembagian saham, asuransi dan
pensiun.
Kesejahteraan buruh/pekerja adalah
suatu pemenuhsn kebutuhan dan /atau keperluasn yasng bersifat jasmaniah dan
rohaniah, baik didalam maupun diluar hubungan kerja, yang secara langsung
atau tidak langsung dapat mempertinggi produktifitas kerjas dalam lingkungan
kerja yang aman dan sehat.
Program kesejahteraan karyawan
adalah tunjangan-tunjangan dan peningkatan kesejahteraan yang pemberiannya
tidak berdasarkan pada kinerja pegawai tetapi didasarkan kepada keanggotaanya
sebagai bagian dari organisasi serta pegawai sebagai seorang manusia yang
memiliki banyak kebutuhan agar dapat menjalankan kehidupannya secara normal dan
bekerja lebih baik.
Timbul pertanyaan apa saja persamaan
dan perbedaan antara kompensasi langsung (gaji/upah) dengan kesejahteraan
karyawan (kompensasi tidak langsung) itu.
Persamaannya:
1. Gaji/upah dan kesejahteraan karyawan adalah sama-sama
merupakan pendapat bagi karyawan.
2. Pemberian gaji/upah dan kesejahteraan bertujuan sama
yakni untuk memenuhi kebutuhan –kebutuhan dan keterkaitan karyawan.
3. Gaji/upah dan kesejahteraan adalah biaya bagi perusahaan.
4. Pemberian gaji/upah dan kesejahteraan dibenarkan oleh
peraturan legal, jadi bisa dimasukan dalam neraca financial perusahaan tersebut
Perbedaannya :
1. Gaji/upah adalah hak karyawan untuk menerimanya dan
menjadi kewajiban perusahaan untuk membayarnya.
2.
Gaji/upah wajib dibayar perusahaan
sedangkan kesejahteraan diberikan hanya atas kebijaksanaan saja , jadi bukan
kewajiban perusahaan atau sewaktu-waktu dapat ditiadakan.
3. Gaji/upah harus dibayar dengan financial(uang/barang),
sedangkan kesejahteraan diberikan dengan financial dan nonfinansial
(fasilitas).
4. Gaji/upah waktu dan besarnya tertentu, sedangkan kesejahteraan
waktu dan besarnya tidak tentu.
Hal-hal diatas mendoronng manajer
yang berkreatif memberikan balas jasa dengan secara langsung dan tidak langsung
untuk tindakan berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu perusahaan mengalami kesulitan
karyawan tetap bersikap loyal.
Kesejahteraan yang diberikan
hendaknya bermanfaat dan mendorong untuk tercapainya tujuan perusahaan,
karyawan, dan masyarakat serta tidak melanggar peraturan legal pemerintah.
Tujuan pemberian kesejahteraan antara lain
sebagai berikut :
1.
Untuk meningkatkan kesetiaan dan
keterikatan karyawan kepada karyawan.
2.
Memberikan ketenangan dan
pemenuhan kebutuhan bagi karyawan beserta keluarganya.
3.
Memotivasi gairah kerja , disiplin
dan produktifitas kerja bagi karyawan.
4.
Menurunkan tingkat absensi
dan turn over karyawan.
5.
Menciptakan lingkungan dan suasana
kerja yang baik serta nyaman.
6.
Membantu lancarnya pelaksanaan
pekerjaan untuk mencapai tujuan.
7.
Mmelihara kesehatan dan
meningkatkan kualitas karyawan.
8.
Mengefektifkan pengadaan karyawan.
9.
Membantu pelaksanaan program
pemerintah dalam meningkatkan kualitas manusia
10.
Mengurangi kecelakaan kerja dan
kerusakan peralatan perusahaan.
11.
Menigkatkan status social karyawan
beserta keluarganya.
Telah dikemukakan bahwa program
kesejahteraan karyawan dapat diberikan secara materi maupun nonmaterial.
Kesejahteraan karyawan secara material berkaitan langsung dengan prestasi
karyawan, dan dapat diberikan berupa kompensasi, seperti uang transport, uang
makan, uang pensiun, tunjangan hari raya, uang jabatan, bonus, uang pendidikan,
uang pengobatan, pakaian dinas, uang cuti, dan uang kematian. Sedangkan
kesejahteraan karyawan secara non material dapat berupa pemberian fasilitas dan
pelayan bagi keryawan seperti fasilitas yang di sediakan oleh pihak perusahaan.
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa program kesejahteraan terdiri dari dua komponen utama yaitu : kompensasi
yang berkaitan lamgsung dengan prestasi kerja karyawan serta kompensasi yang
tidak berkaitan langsung denganprestasi kerja karyawan tetapi diberikan oleh
pihak perusahaan kepada karyawan yang dipandang sebagai penghasilan tambahan.
Pemberian kesejahteraan karyawan
sangat berarti dan bermanfaat bagi perusahaan dan karyawan. Bagi karyawan
pemberian kesejahteraan bermanfaat untuk menciptakan hubungan industrial yang
harmonis antara perusahaan dengan karyawan, meningkatkan semangat kerja
karyawan, disiplin kerja, dan sikap loyalitas karyawan terhadap perusahaan.
Sedangkan bagi perusahaan dapat meningkatkan produktifitas kerja, efisiensi
kerja efektifitas kerja, dan maningkatkan laba. Program kesejahteraan karyawan
sangat pemting demi terwujudnya tujuan perusahaan, namun program kesejahteraan
karyawan harus disusun berdasarkan peraturan yang ada, berdasarkan asas
keadilan dan kelayakan, dan berpedoman pada kemampuan perusahaan.
Bentuk lainnya dari program
kesejahteraan karyawan didalam perusahaan dapat berupa dana bantuan pendidikan,
bantuan keuangan, dan bantuan social. Seperti yang dikemukakan oleh Sondang P.
Siagian, menyebutkan bahwa : “dalam usaha mendorong produktifitas serta
ketenangan kerja pada karyawannya, perusahaan memberikan jasa-jasa tertentu
kepada karaywannya pembayaran diluar upah dan gaji serta berbagai manfaat
sasmpingan. Umumnya diberikan jasa-jasa tersebut antara lain bantuan
pendidikan, bantuan keuangan, dan bantuan social.
Dari uraian-uaraian diatas bahwa
pemberian kesejahteraan bertujuan untuk mendorong produktifitas serta
ketenangan kerja pada perusahaan. Apabila perusahaan memiliki tenaga kerja yang
mampu dan cakap, namun jika tidak ada dorongan kepada karyawan maka semua itu
tidak ada artinya. Jadi agar para karyawan dapat meningkatkan semangatnya perlu
adanya suatu dorongan semangat kerja yang salah satunya dengan kesejahteraan
bagi karyawan, dan pada akhirnya tujuan dan harapan dari perusahaan dapat terwujud.[8]
IV.
KESIMPULAN
Motivasi
(motivation) berasal dari bahasa latin, yakni movere yang berarti “ menggerakkan” (to move).
Motivasi merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau
eksternalbagi seorang individu. Yang meyebabkan timbulnya sikap entusiasme dan
persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan kegiatan tertentu (Gray, Dkk, 1984
: 69).
Motivasi
merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku
manusia. Motivasi ini merupakan subjek yang penting bagi manajer, karena
menurut definisi manajer harus bekerja dengan dan melalui orang lain.
Dalam perkembangannya, motivasi dapat dipandang menjadi empat pendekatan
antara lain, pendekatan tradisional, hubungan manusia, sumber daya manusia, dan
pendekatan konteporer.
Konsep
dasar motivasi dipakai untuk menggambarkan hubungan antara harapan dengan tujuan,
kebutuhan, rangsangan.
Teori-teori
motivasi yaitu:
a. Teori kebutuhan
b. Teori dua faktor
c. Teori x dan y
d. Teori EGR
e. Teori keadilan
f. Teori Pengharapan
g. Teori penguatan
h. Teori motivasi Mc Clelland
i.
Teori
porter-lowler
Menurut Malayu S.P. Hasibuan
kesejahteraan adalah balas jasa lengkap (materi dan non materi yang diberikan
oleh pihak perusahaan berdasarkan kebijaksanaan. Tujuannya untuk mempertahankan
dan memperbaiki kondisi fisik dan mental karyawan agar produktifitasnya
meningkat.
Kesejahteraan dapat dipandang sebagai uang bantuan lebih
lanjut kepada karyawan. Terutama pembayarannya kepada mereka yang sakit, uang
bantuan untuk tabungan karyawan, pembagian berupa saham, asuransi, perawatan di
rumah sakit, dan pensiun.
Program kesejahteraan yang
diberikan oleh perusahaan, lembaga atau organisasi pada pegawainya hendaknya
bermanfaat, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan perusahaan yang
efektif. Program kesejahteraan karyawan sebaiknya sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh perusahaan dan tidak melanggar peraturan pemerintah.
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah
yang dapat penulis susun, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan penulis untuk memperbaiki
makalah ini. Penulis minta maaf apabila ada penulisan atau ulasan yang salah
atau kurang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Bangun, Wilson, 2012, Manajemen
Sumber Daya Manusia, Jakarta : PT
Gelora Aksara Pratama.
Efendi, Usman
, 2011, Asas Manajemen, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
J. Winardi,
, 2008, Motivasi dan kemotivasian
dalam manajemen, Jakarta : Rajawali Pers.
Prabu
mangku Negara, Anwar, 2008, Manajemen
Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung : PT Remaja Pusta karya offset.
http://adiens-blog.blogspot.co.id/2012/03/manajemen-sdm-makalah-pelayanan.html rabu 23 sept 2015 13.19 WIB.
[1] J. Winardi,
Motivasi dan kemotivasian dalam manajemen, (Jakarta : Rajawali Pers, 2008),
hlm 1-6 .
[2] Anwar Prabu
mangku Negara, Manajemen Sumber Daya
Manusia Perusahaan, (Bandung : PT Remaja Pusta karya offset, 2008), 93-94.
[3] Usman Efendi, Asas
Manajemen, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm 152.
[4] Usman Efendi, Asas Manajemen, (Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm 151-152.
[5]. Wilson Bangun,
Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta
: PT Gelora Aksara Pratama, 2012), hlm
314-316.
[6]. Anwar Prabu
mangku Negara, Manajemen Sumber Daya
Manusia Perusahaan, (Bandung : PT Remaja Pusta karya offset, 2008),hlm
94-96.
[7]. Wilson Bangun,
Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta
: PT Gelora Aksara Pratama, 2012), hlm
318-326.
[8] http://adiens-blog.blogspot.co.id/2012/03/manajemen-sdm-makalah-pelayanan.html rabu 23 sept 2015 13.19 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar